Lucunya Sumur Bandung

6 Oktober 2009 at 3:51 pm Tinggalkan komentar

Sejak 1985 kedatangan pertamaku di kota Bandung, Senin 5 Oktober 2009 kemarin mungkin adalah saat saya dengan sebenarnya merasakan salah satu kekhasan Bandung yang dingin dan banyak air. Konon kehidupan dan kebudayaan Bandung dan sekitarnya tak lepas dengan air, makanya banyak jalan atau tempat di kota menggunakan nama dengan awalan ‘ci’ yang berarti air, semisal Cimahi (tempat tinggalku) berarti ‘air yang melimpah’.

Seperti kemarin menjelang Maghrib, hujan deras menyebabkan banjir cileuncang (air curahan hujan) yang juga menyerbu jalanan di belakang kampus ITB. Lepas Maghrib dan berbuka, saya sudah janji menjemput anakku Farah di bimbel dekat situ. Hidangan sudah habis dan shalat segera ditunaikan untuk kemudian saya bergegas berangkat dari Labtek VIII Ganesa 10. Khawatir macet Tamansari, saya memilih jalur Dago dan berbelok di Dayang Sumbi. Sampai dengan memarkir mobil di pinggir jalan depan LAPI ITB, rencana berjalan mulus. Hujan masih rintik dan cileuncang masih deras, namun air belum dapat masuk kaus kaki meski cileuncang diterjang. Dengan dua payung, satu terkembang yang lain dipegang, berjalan saya menyusur jalan dengan memilih-milih jalan. Mengandalkan penerangan mobil yang ramai lalu lalang saya berusaha lompat sana sini menghindar dari kerikil, dan pasir yang terbawa air.

Sampai ketika bertemu mobil parkir di bahu jalan, saya harus memilih salah satu, antara lewat sebelah kiri mobil parkir dengan resiko terserempet mobil lewat atau di trotoir tanah sebelah kanan mobil parkir yang masih teraliri banjir cileuncang. Pilihan terakhir ditempuh karena terdapat tumpukan bongkahan batu pondasi projek yang dapat dijadikan tumpuan menghindari air. Seseorang berjalan di belakang mengikuti jalurku, langkahku yang berhati-hati selepas pijakan batu terakhir haruslah menerjang air yang tampak seperti yang kuterjang sebelumnya di jalan raya, sebatas mata kaki.

Itulah saat langkahku terhenti di ujung Sumur Bandung ….

“Jlegur!!!…” senyap sejenak “… %$3!@ *^#…??? ….”
” Wakakakakakkakak … ” dalam hatiku.

Ternyata saya telah kecebur kubangan galian (the real Sumur of Bandung) sepinggang dengan memegang payung di kedua tangan (salah satu terkembang)! Agar tak terlalu malu dengan seseorang di belakangku, bercampur perasaan geli sendiri, segera kuambil ancang menaiki bibir kubangan dengan yakin, dan … hehhh, lha kok ternyata masih juga di kubangan, seberapa luas danau ini pikirku … wakakakakak. Seseorang di belakangku tadi mengambil jalan memutar dan mengamati sejenak sambil tersenyum memastikan keselamatanku di ujung danau seberang itu. Duh!

Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan atas kasih sayangnya dengan kelucuan yang dianugerahkan kepadaku. Sampai saat bertemu Farah di bimbel dekat situ saya masih berusaha menahan geli sendiri dengan senyum- senyum sendiri.

“Ayah, mengapa celana dan sepatu basah begitu?”, tanya anakku.
“Bukankah kamu tahu di sini baru hujan lebat?”, jawabku berusaha tidak berbohong.

Syukurnya dia tak bertanya lagi meski menurutku semacam bau besi atau comberan dapat tercium merayap dari celana basahku. Sesampai di sedan Corona rewelku, kubuka sepatu dan kaus kaki basah, kulempar di bawah jok belakang. Kuambil juga sebuah koran bekas di bagasi agar jok sopir tak basah dan bau.

” Ayo kita ke dokter Teti sekarang”, ajakku.
” OK”, jawabnya pendek.

Hari itu memang jadwal mingguan Farah suntik anti-alergi di Gatot Subroto. Dapat saja kubatalkan dan pulang, tetapi daripada harus 45 menit berbasah celana dulu ke Cimahi? Lagipula saya sudah kenyang makan dan yakin tak masuk angin. Sesungguhnya saya ingin segera melepas celana panjang dan bercelana pendek (dalam) tanpa perlu bercerita kejadian sebenarnya. Itulah sebabnya sesampai di dokter THT, saya minta dia sendiri menemui dokternya dengan alasan sepatu basah. Seperginya meninggalkan mobil menemui dokter, kutarik jok sopir ke belakang … sebab bagaimana lagi caranya melepas celana panjang bau comberan di dalam mobil tanpa ketahuan tukang parkir?

Masih belum puas dengan rasa bebas dari basah tak nyaman, kutarik sandaran jok ke belakang, dan dengan gaya sopir taksi bersantai menunggu penumpang, kakipun kutaruh di atas dashboard. Setelah itu, enjoy the moment, man! Ketawa diriku berulang-ulang membayangkan gerakan slow motion aksi kecebur kubangan tadi.

“Wuahahaha …. wuakakak …. wakakakakak ….”

Sungguh amat kusyukuri anugerah dagelan dari Gusti Pengeran Nanging Allah, yang amat menghiburku. Alhamdulillah kuucapkan berulang sambil tersenyum-senyum. Sungguh sulit menahan kelucuannya, sampai-sampai Farah kuberi cerita lucu lain (yang tak ada hubungannya) sepanjang jalan pulang ke Cimahi, hanya untuk cari alasan ketawa-ketawa sendiri supaya tidak seperti orang gila.

Sesampai di rumah, sudah dapat diduga, sejumlah pertanyaan kembali dikemukakan orang rumah melihatku menenteng laptop masuk rumah, bercelana pendek, tanpa alas kaki (seperti gembel atau kere model anyar, wakakakakak …).

” Ayah, mengapa ‘nyeker’ dan bercelana pendek?”,
” Celana panjangnya basah? Mengapa?”, rentetan pertanyaan istriku.
” Oh, hujan deras di Bandung, yang pake payung kan cuma bagian atas?”, jawaban berkelit yang sudah kusiapkan.

Whuahahahaha …

Moral of the story: Termasuk kelucuan, anda tidak akan pernah tahu apapun yang ada di depan anda.

Entry filed under: Hidup (di) Indonesia!. Tags: .

Lebah 78 Positive Thinking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: