Lebah 78

8 September 2009 at 3:29 pm Tinggalkan komentar

Suatu siang di kantor, seorang teman kerja tiba-tiba membagi pengetahuan tentang pelajaran yang dapat diambil dari sebuah ayat. Terlupa persis ayatnya, melalui jawaban SMS teman juga memberi ayat lain yang memiliki kesamaan sebagai berikut berturutan:

An Nahl [78] Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

As Sajdah [9] Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Seolah mendapatkan sesuatu yang lama dicari, begitu bahagianya saya hingga memutuskan membaginya dengan jamaah kultum Shubuh kompleks rumahku. Pada obrolan ringan selepas Jumu’ah, saya bagi pengetahuan ini juga dengan dua rekan kerja lain di kantor. Tak puas, saya bagi lagi dengan rekan dan guru pelajaran santai nahu shorof di hari lain, dimana pemahaman mendapatkan tambahannya.

Sesungguhnya apa yang penting? Bagiku, mungkin jelas bahwa kesombongan adalah sumber kehancuran namun keangkuhan pula yang selalu menyulitkan mengakui hal itu (lihat saja kata ‘mungkin’). “Mengapa?” adalah pertanyaan terbesarnya.

Sudah lama dirasa, ada sesuatu yang salah pada seluruh pengetahuan yang sudah terakumulasi di dalam diri. Pengetahuan sains alam formal ataupun nonformal tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan. Subhanallah, tersentak kesadaran bahwa ternyata telah lama sekali pendengaran dan penglihatan mendominasi perannya sebagai media masuknya seluruh pengetahuan. Segala yang tak terukur adalah pengetahuan tidak ilmiah, begitulah filosofi sains yang telah mendarah daging. Sampai detik ini, itulah yang anak-anak kita pelajari di sekolah dan dapati di sekitarnya.

Ini bukanlah tentang pertentangan sains dan yang selainnya, melainkan perkara kapan dan bagaimana pengetahuan yang diperoleh sains dapat digunakan dan bermanfaat. Suatu penelitian mengungkap bahwa mata dan telinga adalah indera paling dominan manusia, berurutan. Sains mengungkap bahwa mata dan telinga memiliki organ yang bergetar (beresonansi) untuk menangkap sinyal pengetahuan berupa gelombang cahaya elektromagnetik dan gelombang suara. Sains pula yang membuktikan hanyalah gelombang cahaya frekuensi 400-790 terahertz yang dapat ditangkap mata dan gelombang suara frekuensi sekitar 20-20 kilohertz yang dapat didengar manusia. Sungguh segala pengetahuan yang meliputi seluruh rentang frekuensi yang mungkin mustahil ditangkap oleh mata-telinga, bukan? (demikian argumen teman pembawa berita gembira ini).

Bagaimanakah kita manusia memperoleh pengetahuan yang disampaikan melalui spektrum frekuensi yang penting, yang tinggi, yang bening, yang suci, yang ’divine’, dan seterusnya? Sungguh, amat jauh lebih banyak yang tidak manusia ketahui daripada yang diklaim diketahuinya semua. Lalu di sisi lain, mengapa sains dan pengetahuan turunannya menyebabkan kita begitu angkuh sementara kita jelas-jelas tak pernah bisa melihat sesuatu yang dilihat lebah, tak bisa mendengar suara yang didengar seekor anjing? Bukankah sains telah mengabarkannya? Pernahkan kita dengar elusan lembut debu-debu yang menempel di daun-daun?

Al-af’idah (hati) adalah jawabannya! Terlampau lama dan sering kita menjadi ’ignorant’ sejati, mengabaikan hati (ampuni hamba ya Tuhan). Bagaimana organ penting ini dapat menangkap pengetahuan sedangkan kita mengotorinya, memberatinya, … tak henti-hentinya. Apakah tak mungkin kemudian membatu? Sains lagi: pengetahuan (warna, suara, dan lainnya) yang terpancar dalam bentuk gelombang dengan frekuensi dirinya masing-masing mustahil ditangkap penerima yang tidak dapat membangkitkan sinyal dengan frekuensi yang sama. Kerusakan organ retina mata dapat menyebabkan suatu warna tertentu ak pernah mampu dimengerti oleh seseorang. Kiranya, getaran pengetahuan apakah yang dapat ditangkap oleh inti batu?

Julukan atau label keren ilmiah yang terukur bagi pengetahuan melalui indera adalah menyesatkan kebenaran sebab semua indera terbukti telah gagal dan terbukti tidak dapat menerima seluruh pengetahuan. Ingatkah, sesungguhnya asalnya kita adalah makhluk semacam bio-prosesor yang stupid, garing, kosong, tak ada apa-apanya. Mengapa kemudian pengetahuan yang dimasukkan sebab adanya sejumlah organ fisik input ke dalam diri kita, kita klaim sebagai milik kita?

Sungguh, selain indera, lebihnya manusia adalah anugerah organ immaterial akal dan hati. Akal adalah organ prosesor sedang hati adalah organ input atau masukan –sejajar fungsinya dengan pendengaran dan penglihatan (wAllahu ’alam bishshowab). Sesuai urutan dalam ayat, guru nahu mengungkap tentang bagaimana sebaiknya urutan penggunaannya dalam memperoleh pengetahuan, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati. Selain itu, penggunan kata jamak pada penglihatan dan hati menunjukkan semakin besarnya potensi yang dipunyai organ-organ tersebut secara berurutan.

Ya Allah Tuhan kami, ampuni dosa dan kesalahan kami, tetapkan hati kami pada agamaMu, bantulah kami mensyukuri semua nikmatMu. Sungguh aku mengharapkan ridhomu di bulan suci Ramadhan ini, ya Allah.

18 Ramadhan 1430H

Entry filed under: Hidup (di) Indonesia!. Tags: .

Dr HC SBY Lucunya Sumur Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: