Posts filed under 'Hidup (di) Indonesia!'
Lucunya Sumur Bandung
Sejak 1985 kedatangan pertamaku di kota Bandung, Senin 5 Oktober 2009 kemarin mungkin adalah saat saya dengan sebenarnya merasakan salah satu kekhasan Bandung yang dingin dan banyak air. Konon kehidupan dan kebudayaan Bandung dan sekitarnya tak lepas dengan air, makanya banyak jalan atau tempat di kota menggunakan nama dengan awalan ‘ci’ yang berarti air, semisal Cimahi (tempat tinggalku) berarti ‘air yang melimpah’.
Seperti kemarin menjelang Maghrib, hujan deras menyebabkan banjir cileuncang (air curahan hujan) yang juga menyerbu jalanan di belakang kampus ITB. Lepas Maghrib dan berbuka, saya sudah janji menjemput anakku Farah di bimbel dekat situ. Hidangan sudah habis dan shalat segera ditunaikan untuk kemudian saya bergegas berangkat dari Labtek VIII Ganesa 10. Khawatir macet Tamansari, saya memilih jalur Dago dan berbelok di Dayang Sumbi. Sampai dengan memarkir mobil di pinggir jalan depan LAPI ITB, rencana berjalan mulus. Hujan masih rintik dan cileuncang masih deras, namun air belum dapat masuk kaus kaki meski cileuncang diterjang. Dengan dua payung, satu terkembang yang lain dipegang, berjalan saya menyusur jalan dengan memilih-milih jalan. Mengandalkan penerangan mobil yang ramai lalu lalang saya berusaha lompat sana sini menghindar dari kerikil, dan pasir yang terbawa air.
Sampai ketika bertemu mobil parkir di bahu jalan, saya harus memilih salah satu, antara lewat sebelah kiri mobil parkir dengan resiko terserempet mobil lewat atau di trotoir tanah sebelah kanan mobil parkir yang masih teraliri banjir cileuncang. Pilihan terakhir ditempuh karena terdapat tumpukan bongkahan batu pondasi projek yang dapat dijadikan tumpuan menghindari air. Seseorang berjalan di belakang mengikuti jalurku, langkahku yang berhati-hati selepas pijakan batu terakhir haruslah menerjang air yang tampak seperti yang kuterjang sebelumnya di jalan raya, sebatas mata kaki.
Itulah saat langkahku terhenti di ujung Sumur Bandung ….
“Jlegur!!!…” senyap sejenak “… %$3!@ *^#…??? ….”
” Wakakakakakkakak … ” dalam hatiku.
Ternyata saya telah kecebur kubangan galian (the real Sumur of Bandung) sepinggang dengan memegang payung di kedua tangan (salah satu terkembang)! Agar tak terlalu malu dengan seseorang di belakangku, bercampur perasaan geli sendiri, segera kuambil ancang menaiki bibir kubangan dengan yakin, dan … hehhh, lha kok ternyata masih juga di kubangan, seberapa luas danau ini pikirku … wakakakakak. Seseorang di belakangku tadi mengambil jalan memutar dan mengamati sejenak sambil tersenyum memastikan keselamatanku di ujung danau seberang itu. Duh!
Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan atas kasih sayangnya dengan kelucuan yang dianugerahkan kepadaku. Sampai saat bertemu Farah di bimbel dekat situ saya masih berusaha menahan geli sendiri dengan senyum- senyum sendiri.
“Ayah, mengapa celana dan sepatu basah begitu?”, tanya anakku.
“Bukankah kamu tahu di sini baru hujan lebat?”, jawabku berusaha tidak berbohong.
Syukurnya dia tak bertanya lagi meski menurutku semacam bau besi atau comberan dapat tercium merayap dari celana basahku. Sesampai di sedan Corona rewelku, kubuka sepatu dan kaus kaki basah, kulempar di bawah jok belakang. Kuambil juga sebuah koran bekas di bagasi agar jok sopir tak basah dan bau.
” Ayo kita ke dokter Teti sekarang”, ajakku.
” OK”, jawabnya pendek.
Hari itu memang jadwal mingguan Farah suntik anti-alergi di Gatot Subroto. Dapat saja kubatalkan dan pulang, tetapi daripada harus 45 menit berbasah celana dulu ke Cimahi? Lagipula saya sudah kenyang makan dan yakin tak masuk angin. Sesungguhnya saya ingin segera melepas celana panjang dan bercelana pendek (dalam) tanpa perlu bercerita kejadian sebenarnya. Itulah sebabnya sesampai di dokter THT, saya minta dia sendiri menemui dokternya dengan alasan sepatu basah. Seperginya meninggalkan mobil menemui dokter, kutarik jok sopir ke belakang … sebab bagaimana lagi caranya melepas celana panjang bau comberan di dalam mobil tanpa ketahuan tukang parkir?
Masih belum puas dengan rasa bebas dari basah tak nyaman, kutarik sandaran jok ke belakang, dan dengan gaya sopir taksi bersantai menunggu penumpang, kakipun kutaruh di atas dashboard. Setelah itu, enjoy the moment, man! Ketawa diriku berulang-ulang membayangkan gerakan slow motion aksi kecebur kubangan tadi.
“Wuahahaha …. wuakakak …. wakakakakak ….”
Sungguh amat kusyukuri anugerah dagelan dari Gusti Pengeran Nanging Allah, yang amat menghiburku. Alhamdulillah kuucapkan berulang sambil tersenyum-senyum. Sungguh sulit menahan kelucuannya, sampai-sampai Farah kuberi cerita lucu lain (yang tak ada hubungannya) sepanjang jalan pulang ke Cimahi, hanya untuk cari alasan ketawa-ketawa sendiri supaya tidak seperti orang gila.
Sesampai di rumah, sudah dapat diduga, sejumlah pertanyaan kembali dikemukakan orang rumah melihatku menenteng laptop masuk rumah, bercelana pendek, tanpa alas kaki (seperti gembel atau kere model anyar, wakakakakak …).
” Ayah, mengapa ‘nyeker’ dan bercelana pendek?”,
” Celana panjangnya basah? Mengapa?”, rentetan pertanyaan istriku.
” Oh, hujan deras di Bandung, yang pake payung kan cuma bagian atas?”, jawaban berkelit yang sudah kusiapkan.
Whuahahahaha …
Moral of the story: Termasuk kelucuan, anda tidak akan pernah tahu apapun yang ada di depan anda.
Add comment 6 Oktober 2009
Lebah 78
Suatu siang di kantor, seorang teman kerja tiba-tiba membagi pengetahuan tentang pelajaran yang dapat diambil dari sebuah ayat. Terlupa persis ayatnya, melalui jawaban SMS teman juga memberi ayat lain yang memiliki kesamaan sebagai berikut berturutan:
An Nahl [78] Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
As Sajdah [9] Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Seolah mendapatkan sesuatu yang lama dicari, begitu bahagianya saya hingga memutuskan membaginya dengan jamaah kultum Shubuh kompleks rumahku. Pada obrolan ringan selepas Jumu’ah, saya bagi pengetahuan ini juga dengan dua rekan kerja lain di kantor. Tak puas, saya bagi lagi dengan rekan dan guru pelajaran santai nahu shorof di hari lain, dimana pemahaman mendapatkan tambahannya.
Sesungguhnya apa yang penting? Bagiku, mungkin jelas bahwa kesombongan adalah sumber kehancuran namun keangkuhan pula yang selalu menyulitkan mengakui hal itu (lihat saja kata ‘mungkin’). “Mengapa?” adalah pertanyaan terbesarnya.
Sudah lama dirasa, ada sesuatu yang salah pada seluruh pengetahuan yang sudah terakumulasi di dalam diri. Pengetahuan sains alam formal ataupun nonformal tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan. Subhanallah, tersentak kesadaran bahwa ternyata telah lama sekali pendengaran dan penglihatan mendominasi perannya sebagai media masuknya seluruh pengetahuan. Segala yang tak terukur adalah pengetahuan tidak ilmiah, begitulah filosofi sains yang telah mendarah daging. Sampai detik ini, itulah yang anak-anak kita pelajari di sekolah dan dapati di sekitarnya.
Ini bukanlah tentang pertentangan sains dan yang selainnya, melainkan perkara kapan dan bagaimana pengetahuan yang diperoleh sains dapat digunakan dan bermanfaat. Suatu penelitian mengungkap bahwa mata dan telinga adalah indera paling dominan manusia, berurutan. Sains mengungkap bahwa mata dan telinga memiliki organ yang bergetar (beresonansi) untuk menangkap sinyal pengetahuan berupa gelombang cahaya elektromagnetik dan gelombang suara. Sains pula yang membuktikan hanyalah gelombang cahaya frekuensi 400-790 terahertz yang dapat ditangkap mata dan gelombang suara frekuensi sekitar 20-20 kilohertz yang dapat didengar manusia. Sungguh segala pengetahuan yang meliputi seluruh rentang frekuensi yang mungkin mustahil ditangkap oleh mata-telinga, bukan? (demikian argumen teman pembawa berita gembira ini).
Bagaimanakah kita manusia memperoleh pengetahuan yang disampaikan melalui spektrum frekuensi yang penting, yang tinggi, yang bening, yang suci, yang ’divine’, dan seterusnya? Sungguh, amat jauh lebih banyak yang tidak manusia ketahui daripada yang diklaim diketahuinya semua. Lalu di sisi lain, mengapa sains dan pengetahuan turunannya menyebabkan kita begitu angkuh sementara kita jelas-jelas tak pernah bisa melihat sesuatu yang dilihat lebah, tak bisa mendengar suara yang didengar seekor anjing? Bukankah sains telah mengabarkannya? Pernahkan kita dengar elusan lembut debu-debu yang menempel di daun-daun?
Al-af’idah (hati) adalah jawabannya! Terlampau lama dan sering kita menjadi ’ignorant’ sejati, mengabaikan hati (ampuni hamba ya Tuhan). Bagaimana organ penting ini dapat menangkap pengetahuan sedangkan kita mengotorinya, memberatinya, … tak henti-hentinya. Apakah tak mungkin kemudian membatu? Sains lagi: pengetahuan (warna, suara, dan lainnya) yang terpancar dalam bentuk gelombang dengan frekuensi dirinya masing-masing mustahil ditangkap penerima yang tidak dapat membangkitkan sinyal dengan frekuensi yang sama. Kerusakan organ retina mata dapat menyebabkan suatu warna tertentu ak pernah mampu dimengerti oleh seseorang. Kiranya, getaran pengetahuan apakah yang dapat ditangkap oleh inti batu?
Julukan atau label keren ilmiah yang terukur bagi pengetahuan melalui indera adalah menyesatkan kebenaran sebab semua indera terbukti telah gagal dan terbukti tidak dapat menerima seluruh pengetahuan. Ingatkah, sesungguhnya asalnya kita adalah makhluk semacam bio-prosesor yang stupid, garing, kosong, tak ada apa-apanya. Mengapa kemudian pengetahuan yang dimasukkan sebab adanya sejumlah organ fisik input ke dalam diri kita, kita klaim sebagai milik kita?
Sungguh, selain indera, lebihnya manusia adalah anugerah organ immaterial akal dan hati. Akal adalah organ prosesor sedang hati adalah organ input atau masukan –sejajar fungsinya dengan pendengaran dan penglihatan (wAllahu ’alam bishshowab). Sesuai urutan dalam ayat, guru nahu mengungkap tentang bagaimana sebaiknya urutan penggunaannya dalam memperoleh pengetahuan, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati. Selain itu, penggunan kata jamak pada penglihatan dan hati menunjukkan semakin besarnya potensi yang dipunyai organ-organ tersebut secara berurutan.
Ya Allah Tuhan kami, ampuni dosa dan kesalahan kami, tetapkan hati kami pada agamaMu, bantulah kami mensyukuri semua nikmatMu. Sungguh aku mengharapkan ridhomu di bulan suci Ramadhan ini, ya Allah.
18 Ramadhan 1430H
Add comment 8 September 2009
Dr HC SBY
Pro kontra Dr HC bagi SBY dari ITB di bidang IT. Ada yang mengatakan ini adalah kelucuan awal tahun. Tetapi, ada yang mengatakan layak sebab kebijakan IT-nya. Hah? Saya harus mengatakan saya termasuk golongan kontra. Why? Saya sangat meragukan kontribusi SBY di bidang IT, saya tak meragukan kontribusi Soekarno di bidang Teknik Sipil. Setahu saya, keputusan diambil dengan voting oleh sekitar 30-an dari 50-an anggota di senat akademik SA ITB dengan hasil: pro menang tipis (saya baca komentar Pak Miftah Faridl di salah satu koran on-line. Cek sendiri, tanya mbah Google). Bahkan, seorang teman di milis dosen ITB menawarkan voting seluruh civitas academica ITB untuk menguji apakah keputusan SA ITB memang membawa aspirasi masayarakat akademik di kampus yang direpresentasikannya. Well, … tak ditanggapi. Artinya apa? Pikirin dhewe, rek … Jika argumen bahwa keputusan sudah demokratis, prosedural, dll dan sudah berjalan 2 tahun dan juga dengan segala macam tetek bengek bengek … ya sudah. Tapi saya mau mengatakan. Please, NOT IN MY NAME!
Add comment 4 Februari 2009
Sliding Mode Control (What?)
SMC: sliding mode control -dapat diterjemahkan sebagai Kendali Modus Luncur (KML)- adalah cara pengendalian sistem sedemikian sehingga sistem tersebut dipaksa menuju perangkap modus luncur (sliding mode) dengan sebuah titik pusat perangkap. Namanya juga perangkap, ya setelah terperangkap, sistem akan tetap disana dan kemudian ‘terpeleset’ menuju titik pusat perangkap tsb. Misalkan kita punya sebuah sistem yang dapat dinyatakan: , dengan
=variabel state sistem dan
=sinyal kendali. Bentuklah sebuah perangkap (sliding surface):
Lalu, bagaimana cara mendapat sinyal kendali agar sistem berada pada perangkap modus luncur? Begini, buatlah sinyal kendali berbentuk:
sedemikian sehingga syarat perangkap berikut terpenuhi:
Perhatikan bahwa dengan sinyal kendali tersebut didapat
, atau
, sehingga
. Syarat ini akan selalu terpenuhi dengan memilih
jika
dan
jika
. Jadi, kita dapat pilih
jika
dan -sebaliknya-
jika
. Dengan kata lain, akan terjadi sinyal kendali berupa ideal switching pada (
) jika trajektori sistem tidak berada di sliding surface (yaitu jika
). Selama waktu yang terbatas, hal ini tak lain akan memaksa trajektori sistem menuju dan tetap berada di sliding surface (=terjebak) untuk seterusnya. Perhatikan, sistem yang demikian mestinya memiliki sinyal kendali
. Sinyal kendali yang kemudian tertinggal adalah
. Silahkan dicek, sinyal ini akan membuat
sehingga juga
, yang berarti sistem sudah terjebak!. That’s all there is. There isn’t anymore!
2 comments 29 April 2008
Genetic Algorithm
Algoritma yang menirukan proses alami genetika dengan prinsip utama: survival of fittest. Bayangkan sebuah populasi yang terdiri dari (misal) 11 buah dengan masing-masing kode genetiknya, sebut sebagai generasi pertama. Bayangkan suatu ekosistem tempat hidup populasi dengan segala sumber daya hidup terbatas, maka batasan satu set generasi hanya cukup bagi 11 anggota dapatlah diterima. Generasi berikut antara lain diperoleh dengan suatu proses yang tidak ‘fair’, yaitu elitisme. Dalam hal ini dengan sejumlah anggota populasi langsung lolos tanpa seleksi melalui tes daya-hidupnya (fitnest). Sejumlah anggota yang tak lolos seleksi dibuang (dianggap mati) dan posisinya dalam populasi akan diganti dengan (lagi…)
4 comments 10 April 2008
Jalan bolong!
Saya selalu kesal jika berkendara mobil dari Cimahi ke ITB melalu Cimindi dan Gunung Batu (namun saya tetap saja lewat, kalau tidak, saya takkan kesal bukan?) . Tikungan-tikungan utama di sana bolong-bolong! Sejak 2005 lalu, saya mengamati perkembangan pemeliharaan jalur tersebut. Habis ditambal, paling-paling cukup 1 bulan sudah …bolong lagi! Saya sering berpikir, apa memang tidak ada pakar jalan raya yang dapat mengatasi perbaikan jalan yang awet lama. Padahal, mestinya Bandung tempatnya, ada Litbang PU segala. Mosok seh rek! Teman badmintonku, Sabtu lalu di GOR Nasional Buciper Cimahi komentar: “kayak gak tahu aja, penanganannya kan suatu projek. Lha kalau, tidak sering bolong tentu tidak ada projek regular”. Pikirku, ‘Ini kan pemborosan! … gak efisien blas!. Orang-orang biasa yang belum sejahtera kan masih buanyak’. Komentar yang gampang diduga, … kita semua sering dengar toh (saya pura-pura tak tahu saja). Bukti lain dari wauaaaakueh …. (baca: banyak banget) bukti lain bahwa budaya pemeliharaan di sini tidak ada. Kalau saja jam sewa lapangan tidak habis, lebih baik saya main badminton satu set lagi, daripada kesal karena ingat jalan bolong-bolong. Long bolong blog goblog blong …
4 comments 8 April 2008